Senin, 27 Februari 2012

Proud to be Madridista

I'm Madridista. And I'm proud of that.


Banyak yang tanya, "Sejak kapan ko suka Real Madrid?", atau "Kenapa ko suka Real Madrid?", lebih parah ada yang tanya "Kenapa ko tak pindah suka Barcelona?"....

Bisa dibilang kalo dalam bahasa lebaynya, "darah madridista sudah mengalir dalam tubuh saya". Pertama kali kenal sepakbola, memang tak langsung kenal dengan Real Madrid, tapi Real Madrid lah yang membuat saya senang dan suka sepakbola. 


Sejak kapan?
Kakak saya adalah penggemar sepakbola juga, jadi dia suka beli tabloid tentang sepakbola. Waktu itu tahun 1998 (ketika saya masih culun2nya), saya suka ikut baca tuh tabloid, kebetulan karena orang2 lagi rame ngobrol tentang piala dunia yang sebentar lagi berlangsung di Perancis. Pas ketemu berita tentang Real Madrid, ternyata itu tentang laga final Piala Champions (sekarang sudah ganti nama de'...jadi Liga Champions) antara Real Madrid vs Juventus. Karena kebetulan kakak saya adalah Juventini, saya memilih mendukung Real Madrid karena tak pernah mau menyukai sama yang disukai kakak saya.  Jauh sebelumnya, kakak saya memang sudah tanya "ko suka apa?", karena ditanya ya saya jawab "Real Madrid", walaupun saya tak tahu sama sekali tentang klub ini. Di berita itu, saya baca head to head-nya. Bukan prediksi atau preview pertandingan, tetapi nama2 pemainnya yang saya lihat. Seingat saya, beberapa pemain Juventus waktu itu adalah Buffon, Del Piero, F. Inzaghi, dan Zidane, sementara Real Madrid diperkuat Redondo, Davor Suker, dan kalau tidak salah ingat Milosevic. Waktu itu saya tak tahu hasil pertandingan nya (Real Madrid menang 1-0), tapi saya sudah terlanjur bilang suka, dan saya harus suka. Sejak saat itu saya mulai mencari tahu tentang Real Madrid.

Setelah World Cup '98 France berakhir, saya sudah mulai update berita sepakbola. Waktu itu saya senang dengan Brazil dengan Ronaldo-nya. Juga dengan Davor Suker (Top Skor World Cup '98) bersama Real Madrid. Meskipun berita tentang mereka masih jarang saya baca (maklum, masih anak2, malas membaca berita toh!). Tahun 1999, saya sudah update berita Real Madrid. Tak terlupakan duet striker maut yang paling mematikan waktu itu, Fernando Morientes-Raul Gonzalez. Tepat tahun 2000, di All Spanish Final Piala Champions 2000 antara Real Madrid melawan Valencia, saya jadi jatuh cinta dengan Real Madrid, terutama dengan Raul Gonzalez-nya. Meskipun waktu itu saya tak melihat pertandingannya langsung, tapi saya sangat senang Raul turut mencetak satu gol di final yang dimenangkan Real Madrid dengan skor 3-0 itu. Saya senang Real Madrid, dan saya sangat mengagumi si anak muda yang bernama lengkap Raul Gonzalez Blanco itu. Sejak saat itu saya sangat suka Real Madrid.


Kenapa Real Madrid?
Ketika pertama kali menyukai Real Madrid, saya tak pernah tahu sejarah besar milik klub raksasa ini. Saya tak pernah tahu kalau ternyata Real Madrid saat itu adalah pengoleksi terbanyak Piala Champions dan La Liga. Itu bukan alasan kenapa saya suka Real Madrid. Saya sangat senang dengan Raul Gonzalez. Itu pula yang membuat saya sangat senang dengan Tim Spanyol. Ya, saya Madridista karena saya Raulista. Permainan elegan, tenang, dan kepemimpinan yang sangat berwibawa, membuat saya sangat senang Raul Gonzalez. Tak salah setelah Hierro pensiun, Real Madrid menyerahkan ban kapten pada si anak muda ini. Saya senang Raul Gonzalez. I love him so much.

Karena senang dengan Raul, saya mencari tahu siapa sih dia. Raul memulai karir sebagai pemain dari akademi Madrid. Dia melakoni debut tim utama pada 1994. Menariknya, saat masih kecil Madrid bermain di akademi Atletico Madrid dan menyeberang ke rival sekota, Real Madrid. Kini, Raul sudah tak lagi berseragam Real Madrid. Sang pemain meninggalkan Real Madrid dan pindah ke Schalke 04 dengan meninggalkan sejarah. Total 323 gol diciptakannya selama berseragam El Real.


Raul juga melewati masa suka duka Real Madrid. Di era Los Galacticos, Raul masih menjadi pilihan utama Real Madrid untuk menggedor pertahanan lawan, meskipun beberapa pemain bintang didatangkan seperti Zinedine Zidane, Luis Figo, Ronaldo, David Beckham, Michael Owen, Arjen Robben, dan Robinho. Saya bukan menjadi Madridista karena pemain2 bintang itu, tapi sekai lagi saya Madridista karena Raul. Raul tak pernah tergantikan di starting line up madrid, berpasangan dengan Suker, Morientes, Ronaldo, Owen, Nisterrooy, atau Robinho, Raul tetap menjadi predator utama lini depan Madrid. Di era Los Galacticos jilid II, Raul memang terpinggirkan, kedatangan pemain bintang macam C. Ronaldo, Kaka, Benzema, Ozil, dan Xabi Alonso, Raul akhirnya mengakhiri 15 tahun pengabdian bersama Madrid. Sangat sedih mengetahui sang pemain idola harus meninggalkan klub andalan saya. Tapi tak serta merta kepergian Raul ke Schalke membuat saya tak lagi menyukai Real Madrid. Saya sudah terlanjur senang dengan Madrid, dan sekali lagi darah madridista sudah terlanjur mengalir dalam tubuh saya. Saya kini jadi senang Real Madrid dan Schalke 04, klub Raul saat ini (lagi2 karena Raul Gonzalez). Tak lagi Brazil, atau Ronaldo, tapi cuma REAL MADRID, RAUL GONZALEZ, SCHALKE 04, dan SPANYOL.

Kenapa tak beralih suka Barcelona (yang katanya klub terbaik masa kini)?
I'm Madridista, and I'm proud of that. Saya senang Real Madrid bukan karena waktu itu dia disebut2 sebagai klub terbaik. Saya suka Real Madrid bukan karena waktu itu banyak pemain bintang dunia disana. Sekali lagi, pertama kali saya kenal Real Madrid saya tak tahu apa2 tentangnya. Saya jadi penggemar sejati Real Madrid ketika hanya Raul Gonzalez yang saya tahu. Saya senang Real Madrid karena Raul Gonzalez, bukan yang lain, selama Raul masih Madridista, selama itu pula saya Madridista.

Tak bisa dipungkiri sekarang adalah masa2 jaya Barcelona, rival abadi Los Merengues. Dan tak bisa dipungkiri saat ini suporter Barcelona atau yang biasa disebut Barcelonista tiba2 membludak. Karena apa??? Apa lagi kalau bukan karena permainan atraktif dari pemain serta prestasi yang dicapainya beberapa tahun terakhir. Sejak era Frank Rijkaard dengan Ronaldinho dan Eto'o nya, Barcelona menjadi buah bibir dan pusat perhatian utama penggemar sepakbola. Dan banyak penggemar bola beralih menyukai Barcelona ketika Messi muncul plus Guardiola dengan sihir sepakbola-nya. Itu tak terbantahkan! Tapi, saya bukan penggemar bola karbitan, yang menyukai klub sepakbola karena dia sekarang menjadi lebih baik, atau paling baik. Sekali lagi, saya bukan penggemar bola karena satu dua pemain bintang. Bagi saya, pemain bintang itu adalah RAUL GONZALEZ dan RAUL GONZALEZ adalah pemain terbaik, untuk itu REAL MADRID adalah klub terbaik sepanjang masa. Saya adalah Madridista dan saya bangga mengatakan ini. Bukan karena faktor Ronaldinho, Guardiola, atau Messi. Tapi Raul Gonzalez lah yang membuat saya menjadi Madridista Sejati. Dialah Pangeran Madrid.



Sampai saat ini, saya masih terus mengikuti perkembangan Raul Gonzalez bersama Schalke. Tentunya tanpa melupakan klub terbaik sepanjang masa, Real Madrid. Saya bangga jadi Madridista. Saya bangga jadi Raulista. Hala Madrid! Vamos Raul!


1 comment:

Bagas Aji mengatakan...

Hala Madrid!!!

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...