Kamis, 09 Februari 2012

Akhirnya Teman Saya Sarjana Juga

Selasa, 31 Januari 2012, saya melangkahkan kaki ke kampus tercinta. Di gedung Jurusan yang saya tuju, telah berkumpul manusia2 dengan seragam putih hitam plus almamater merah identitas kampus ayam. Manusia berseragam itu tak lain dan tak bukan adalah teman2 saya, Awal, Afir, Abas, dan satu orang cewe, Mugi. Sekitar seminggu sebelumnya Ferdy, teman saya yang lain, juga sudah menggunakan pakaian yang sama.
Teringat lagi ketika saya juga dulu mengenakan seragam yang sama hampir lima setengah bulan yang lalu. Hari dimana saya merasa itu merupakan hari yang sangat bersejarah. Hari dimana status saya sebagai mahasiswa dicabut dan identitas baru dilekatkan dalam diri saya, dan pada hari itu saya bangga memamerkannya. Oooeeee.... Sarjana ma cikaaaaa'....!!!!

Big Boss

Pengorbanan demi pengorbanan dilalui sebelum mencapai hari bersejarah itu. Mulai dari bimbingan skripsi (cwo baca "skrip-shit", cwe baca "skrip-sweet")hingga urus berkas ini itu sebagai dokumen kelengkapan ujian akhir (baca: ujian meja). Tak sedikit keringat yang bercucuran menjalani proses hingga hari itu. Dan tak sedikit air mata yang mungkin menetes mewarnai pengorbanan yang sangat tak mudah itu. Tak sedikit biaya yang berhamburan menjadi lembar2 skripsi yang dipenuhi coretan2 sang pembimbing. Tak sedikit dari kami yang MENDERITA, karena bimbingan skripsi dengan dosen killer macam Mr. X (baca: kau tahu siapa). Dan tak banyak yang dapat kami lakukan selain bersabar menghadapinya. Mungkin tak banyak yang beruntung mendapatkan dosen dewa alias super malaikat sebagai pembimbing maupun penguji, seperti saya. Saya akui sangat beruntung mendapatkan pembimbing malaikat, bahkan penguji super duper malaikat. Meskipun saya juga akui saya pun melewati proses2 yang panjang dan melelahkan selama bimbingan skripsi.

Sangat banyak pengorbanan yang dilalui dan banyak ujian mental yang dijalani. Menunggu dosen pembimbing yang tak pasti kedatangannya, terkadang hingga karatan. Sering ada yang menunggu pembimbing selama hampir sehari dan cuma bimbingan tak kurang dari semenit. Bahkan ada yang bimbingan dengan 'pembimbing yang tak mau dibilang pengoreksi', namun kerjanya malah mengoreksi satu lembar tiap kali bimbingan tanpa memberi solusi terhadap kesulitan yang dihadapi oleh sebagian dari kami. Itu pada proses bimbingan. Pada proses ujian, banyak yang "dijatuhkan-harga-diri-nya" oleh penguji yang kerjanya memang untuk itu. Banyak dari kami yang seakan "diludahi" oleh kemampuan meng-skak-mat para penguji killer, yang sepertinya tak peduli perasaan mahasiswa. Banyak Penguji yang dengan bangganya "melecehkan" kemampuan terdakwa (baca: yang diuji), dengan tanpa sungkan mengucapkan kalimat yang tak akademis sama sekali. Proses pengumpulan berkas pun demikian. Pasti tak sedikit dari kami yang "ballisik" terhadap para birokrasi kampus yang dengan seenaknya menghilang ketika kami sangat butuh tanda tangannya. Atau kadang kala ketika mereka menolak untuk bertanda tangan hanya karena persoalan sedikit kesalahan pengetikan nama. Tapi itulah proses. Proses menempuh sebuah gelar bernama SARJANA.

awal, afir, abas

bangga foto bareng petinggi jurusan

ready to be executed

Selasa, 31 Januari 2012, saya kembali melihat manusia2 hitam putih itu dengan tatapan haru. Diruangan SIL saya hadir menyaksikan secara langsung upacara sakral bernama YUDISIUM. Itu adalah yudisium yang kesekian yang saya hadiri termasuk ketika saya sendiri yang di-yudisium. Dari sekian proses yudisium, ada satu hal yang selalu dikatakan oleh ketua jurusan kami yang kebetulan dikatakan lagi hari itu.

"Hari ini, kalian sudah berhak menambahkan title di nama kalian, yakni gelar SS. Bukan Simon Sitoto, bukan Stanislaus Sandarupa, bukan Siti Syahraeny, (nama2 beberapa dosen kami dikampus) tapi Sarjana Sastra"

Tiba-tiba salah seorang peserta yudisium nyeletuk, "bukan Sujardin Syarifuddin" menyebut nama seorang teman kami, mengakhiri ceramah singkat sang ketua jurusan. Setelah itu, dilanjutkan dengan acara jabat-tangan plus foto2 bersama. Sekali lagi mereka terlihat bangga dengan status baru itu, PENGANGGURAN. Saya pun demikian waktu itu. (-_-!!)

Akhirnya teman saya sarjana juga. Selamat bergabung di dunia yang lebih kejam. :)

0 comment:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...