Selasa, 26 Juli 2011

Penggunaan Bahasa Campuran, Terjadi di Parepare

Bahasa sebagai alat komunikasi dalam suatu daerahmenunjukkan budaya di daerah tersebut. Seperti halnya di Kota Parepare (dulunyaKotamadya Parepare) yang mempunyai ciri khas tersendiri mengenai bahasa yangdigunakan. Masyarakat Pare-Pareadalah masyarakat yangmajemuk karena terdiri dari beberapa suku dan etnis. Suku yang terdapat di kotaini adalah suku Bugis, Mandar, Makassar serta Toraja. Adapun etnis yang jugaterdapat di kota ini adalah etnis Cina dan Jawa. Suku Bugis merupakan sukuyang dominan.
Secara khusus kebudayaan Bugis adalah gambaran masyarakat kota ini, meski tidaktertutup kemungkinan tercampur oleh kebiasaan/kebudayaan dari etnis dankomunitas lain. Dikarenakan masyarakat Parepare berasal dari berberapa suku dan etnis, tentusaja bahasa yang digunakan di kota ini pun bermacam-macam. Bahasa yangdigunakan masyarakat Parepare dalam interaksi sehari-hari adalah bahasa daerahBugis, bahasa daerah Mandar, bahasa daerah Makassar, bahasa daerah Toraja,bahasa Cina, bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Masing-masing bahasa digunakanoleh masing-masing suku dalam berinteraksi dengan kalangannya sendiri.
Walaupun bahasa Bugis merupakan bahasa daerah yang paling dominan, namun bahasa yang digunakan dalam interaksi sehari-hari antarsuku adalah bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang digunakan oleh masyarakat Parepare memiliki keunikan tersendiri. Berbeda dengan bahasa Indonesia yang digunakan oleh masyarakat Sulawesi Selatan pada umumnya, bahasa Indonesia dialek Parepare memiliki corak atau karakter tersendiri, baik dari bentuk bahasanya maupun intonasi pengucapannya. Karakter yang sangat kental itulah yang membuat masyarakat Parepare mudah dikenali.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa masyarakat yang mendiami kota Parepare, selain masyarakat asli, adalah masyarakat yang berasal dari kabupaten yang berada di sekitar Parepare sendiri, seperti kabupaten Pinrang, kabupaten Sidrap, kabupaten Barru, dan lain-lain yang semuanya memiliki dialek yang khas dan sangat berbeda. Bahasa Indonesia dialek Sidrap memiliki nada yang sangat tinggi dan kedengaran kasar, oleh karena itu sangat sering membuat orang lain (bukan orang Sidrap) merasa dibentak, akan tetapi sebenarnya bahasanya halus. Berbeda dengan bahasa Indonesia dialek Pinrang, yang memiliki nada lebih rendah, bahkan terkesan lemah lembut walaupun bahasanya kasar.
Ragam bahasa inilah yang bercampur di kota Parepare sehingga dialek masyarakat Parepare sangat beragam. Ada yang mengikuti dialek Pinrang, ada yang mengikuti dialek Sidrap, dan ada pula yang mencampur kedua dialek itu sehingga tercipta dialek yang bernada tinggi dan kasar serta dialek yang bernada rendah dan lembut. Terciptalah bahasa Indonesia dialek Parepare, bahasa Indonesia dengan segala campuran bahasa dari suku-suku, etnis dan wilayah-wilayah di sekitarnya.
Selain percampuran bahasa antar daerah, di Parepare terjadi pula percampuran bahasa antara bahasa Bugis Parepare dengan bahasa Indonesia. Dan inilah yang menjadi ciri khas bagi masyarakat Parepare. Kondisi ini terjadi karena masyarakat Parepare yang sebagian besar adalah suku bugis. Dalam pembicaraan sehari-hari, masyarakat Parepare yang menggunakan bahasa Indonesia sangat sering menyisipkan kosakata bugis di dalamnya. Begitupun sebaliknya, masyarakat Parepare yang menggunakan bahasa Bugis kadang pula memasukkan kosakata bahasa Indonesia ke dalam bahasa Bugis yang dia gunakan, ketika sedang berbicara. Dengan kata lain masyarakat Parepare menggunakan bahasa campuran bugis-Indonesia. Dalam hal ini, Bugis adalah bahasa utama dengan tambahan kata-kata berbahasa Indonesia. Bisa juga sebaliknya, bahasa Indonesia dipakai dengan tambahan bahasa Bugis.
Hal yang mempengaruhi kondisi ini adalah tidak adanya kosakata dalam bahasa Indonesia (misalkan pengguna bahasa menggunakan bahasa Indonesia) yang bisa menyampaikan maksud dari si pengguna bahasa. Contohnya tambahan kata-kata seperti pale’, je’, dan je’na. Dalam hal ini, mereka berbicara dengan lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia tapi juga menyisipkan kata-kata atau ekspresi bahasa Bugis, yang juga dapat terlihat dengan pemakaian awalan atau akhiran dari bahasa Bugis seperti –ki, –ko, na–, ji, –mi, dan –pi.
Kondisi yang sama terjadi pula pada penggunaan bahasa Bugis, dimana si pengguna menyisipkan kata-kata atau ungkapan bahasa Indonesia. Terkadang, dalam situasi informal seperti dalam keluarga dan lingkungan sekitar yang umumnya memakai bahasa Bugis, bahasa Indonesia akan cenderung dipilih terutama jika membicarakan topik-topik yang menggunakan istilah-istilah tertentu dan tidak terdapat istilah Bugis. Misalnya orang berbicara tentang politik, terkadang bahasa Indonesia lebih banyak dipakai untuk menjelaskan istilah-istilah politik yang memang tidak memiliki perbendaharaan bahasa Bugis.
Selain masalah ketidaktersediaan kosakata diantara dua bahasa tersebut, masalah yang juga sangat mencolok dan menjadi penyebab adanya bahasa campuran di Parepare adalah masalah situasi atau setting berkomunikasi. Bahasa Bugis biasanya dipakai dalam situasi informal seperti dalam keluarga atau lingkungan sekitar, sedangkan bahasa Indonesia dipakai dalam situasi yang formal seperti di sekolah atau di kantor-kantor.
Namun demikian, masyarakat Bugis biasa pula memakai bahasa Bugis dalam situasi formal atau sebaliknya menggunakan bahasa Indonesia dalam situasi informal. Ini dapat dipengaruhi oleh jenis kegiatan. Pertemuan yang dilakukan dalam suatu keluarga misalnya bisa menjadi lebih formal sedangkan pembicaraan di kantor misalnya selama istrahat di kantor atau sekolah bisa saja menggunakan bahasa Bugis. Sehingga, bisa dikatakan bahwa pemakaian bahasa Bugis umumnya menunjukkan aktivitas yang sifatnya lebih informal.
Hal lain yang juga menyebabkan percampuran serta peralihan bahasa di Parepare, adalah masalah siapa yang berbicara dan dengan siapa kita berbicara. Misalnya, dua orang yang sudah sangat akrab sudah tentu tidak akan menggunakan bahasa formal dalam hal ini adalah bahasa Indonesia. Mereka akan cenderung menggunakan bahasa Bugis karena dianggap lebih santai dan akrab, sedangkan jika menggunakan bahasa Indonesia dianggap lebih kaku. Masalah usia seseorang juga sangat mempengaruhi kondisi ini. Orang-orang muda akan lebih memilih menggunakan bahasa bugis ketika berbicara dengan ibu atau nenek yang sudah berusia lanjut, karena ini dianggap lebih sopan dan lebih hormat. Dibandingkan jika berbahasa Indonesia, yang kadang tidak dimengerti oleh orang tua. Keanekaragaman dan variasi bahasa inilah yang menjadi ciri khas Kota Parepare. Jenis bahasa yang Heterogen, dimana terdapat banyak bahasa yang kadang digunakan dalam satu keadaan.
Kebanyakan orang sebagai masyarakat asli Parepare merasa bangga dan senang terhadap kondisi bahasa yang terjadi di Kota Parepare. Kebanyakan dari mereka berpendapat bahwa perlu untuk mempertahankan kondisi tersebut. Alasan utamanya karena ingin mempertahankan ciri khas daerah. Dengan dialek yang berbeda kini sangat mudah mengenali orang asli Parepare dengan orang yang berasal dari daerah lain. Kondisi ini juga dianggap baik bagi sebagian masyarakat Parepare. Dengan adanya percampuran bahasa ini, masyarakat lebih mudah berkomunikasi tanpa adanya hambatan akibat ketidaktersediaan kosakata. Orang dapat menggunakan kosakata Bugis dalam berbicara bahasa Indonesia demi kelancaran komunikasi antar sesama pengguna bahasa. Begitu pun dengan orang yang menggunakan bahasa Bugis dalam komunikasinya, mereka tetap dapat menyisipkan kata-kata Indonesia dalam pembicaraannya, tanpa mengurangi kesopanan berbicara.

_KarungBeras_

1 comment:

Ijadh mengatakan...

iyakha...?

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...