Sabtu, 30 Juli 2011

CERPENKU: "Answer"

Kuliah hari ini usai. Seperti hari-hari sebelumnya, sebuah pekerjaan telah menantikan kedatanganku. Meski sulit, akupun menantikan saat-saat dimana aku harus menikmati pekerjaan itu. Menantikan saat-saat yang paling menjenuhkan. Menantikan saat-saat yang paling melelahkan dalam hidupku. Bosan, kata hatiku, melihat orang-orang, serta melakukan aktivitas yang tak berbeda setiap hari.
Aku merasa hidupku tak berwarna, statis, dan membosankan. Demi kuliah, aku harus melayani pembeli yang tak asing setiap harinya, merapikan serta membersihkan barang jualan, atau mencatat barang kosong, dan membersihkan toko tempatku bekerja.
Setiap hari, ku lakukan hingga pukul 11.00 malam, tak jarang hingga pukul 12.00. Setelah itu, aku baru dapat menikmati bantal dan malamku yang telah menunggu untuk menikmati kelelapanku. Setiap hari, aku pun dapat merasakan nikmatnya kegelapan yang menemani setiap tidurku. Setiap pagi setelah aku terbangun dari tidurku yang lelap. usai shalat shubuh, aku bergegas membuka pintu toko, membersihkan lantai, dan menata barang-barang berantakan yang belum sempat dirapikan semalam.
Membosankan. Aku sadar, hidupku berbeda dengan teman-teman kuliahku yang lain. Sedih menyadari aku tak sebebas teman-temanku. Sakit jika mengetahui kehidupan yang menurutku tak adil kepadaku. Aku sadar, aku terikat dengan pekerjaanku. Namun sejujurnya, aku jenuh!
Aku, seorang penjaga toko yang pendiam dan sangat tertutup dengan orang lain. Anak seorang tunarungu pembuat sangkar burung. Putra ke tiga dari empat bersaudara yang semuanya laki-laki. Sebelumnya tak pernah dapat kubayangkan aku menjadi seorang mahasiswa seperti teman-teman ku yang lain, mengingat latar belakang ekonomi keluargaku. Namun sebuah keputusan besar mengubah hidupku. Sangat berani memutuskan untuk menjadi mahasiswa, meski telah mengetahui tak ada yang dapat membiayai kuliahku. Dulu, dengan pekerjaanku aku sangat yakin dapat memenuhi semua biaya kuliahku tanpa memberatkan orang lain, termasuk orang tuaku.
***
Hari ini, aku berangkat lebih awal dari biasanya. Tugas kuliah yang seharusya dikumpul pagi ini belum sempat ku kerjakan. Namun hal ini sudah menjadi hal yang biasa bagiku. Karena terlalu fokus dengan pekerjaan, kadang aku lupa dengan tugas kuliahku. Aku pun tiba di kampus paling awal. Pintu kelas juga belum terbuka. Ku keluarkan buku pelajaran dan ku kerjakan soal semampu ku di sebuah tempat duduk tepat di bawah pohon.
Konsentrasiku tiba-tiba buyar setelah seorang pemulung melintas di hadapanku. Bagong', seorang anak laki-laki yang sedikit tambun. Berambut hitam pendek dan kulit gelap dengan selembar karung yang sepertinya belum terisi banyak di punggungnya. Terlalu pagi, pikirku, dia keluar dan bekerja. Dapat kulihat semangat di mata dan keringat yang bercucuran di wajahnya. Kuperhatikan langkahnya. Matanya tajam mencari-cari sesuatu. Sesekali terdengar dia menggerutu kecil. Kadang pula bernyanyi keras, seakan memberi semangat kepada dirinya sendiri. Dia tersenyum. Kutahu dia menikmati hidupnya. Menikmati setiap ayunan kaki, yang membawanya menemukan apa yang dia cari. Hebat, dalam kehidupannya yang keras, dia masih bisa tersenyum.
Aku tersentak dari lamunanku, ketika seorang teman menegurku dari jauh sambil berlari kecil menuju arahku. Kulanjutkan pekerjaanku dengan beribu perasaan yang tak bisa kugambarkan tentang anak itu.
Kuliah usai. Segera kubereskan barang-barangku. Keluar ruangan dan berjalan pulang menuju tempat tinggalku. Dan seperti hari-hari sebelumnya, sebuah pekerjaan telah menantikan kedatanganku. Aku berjalan pulang di jalan yang sama setiap harinya menuju tempat tinggal sekaligus tempat kerjaku.
Kuhampiri meja makan dan menikmati makanan yang ada dengan lahapnya. Maklum, sejak di kampus aku tak pernah mengisi perutku dengan sedikitpun makanan. Hanya untuk menghemat uang dan mengontrol pengeluaranku. Setelah makan, kuambil alih tugasku kembali, yang ketika aku pergi ke kampus, dilakukan oleh si pemilik toko. Meski sedikit lelah dan mengantuk, kucoba menikmati pekerjaanku kembali, sebagaimana pemulung itu menikmati pekerjaannya. Namun aku tak dapat menikmatinya. Aku lelah!
***
Hari ini, usai kuliah, ada pengumpulan lagi. Sesuatu yang harus dibiasakan bagi seorang mahasiswa baru sepertiku. Meski sudah hampir setahun berada di kampus ini, hampir tak dapat kuhindari hal-hal seperti ini. Bukannya takut dengan senior-senior bertampang sangar, juga bukan takut terkucilkan diantara teman-teman yang lain. Aku menyadari hal ini harus aku lakukan, mungkin demi kelangsungan kuliahku sendiri. Aku harus mengikuti aturan yang ada, sekalipun itu adalah aturan yang dibuat oleh mahasiswa sendiri, seniorku. Semua hanya demi kuliahku. Aku tak mau, salah langkah menjadi batu sandunganku di kampus ini. Kusadari, kekurangan biaya bisa saja menghentikanku melanjutkan langkah menuju cita-citaku. Tapi aku juga menyadari, semua itu dapat kututupi ketika bersungguh-sungguh dengan pekerjaanku.
Aku keluar ruangan kuliah bersama teman-teman yang lain. Kami menuju tempat pengumpulan yang telah diinformasikan sebelumnya. Lagi, aku bertemu dengan Bagong, yang kali ini dengan telitinya mengais dan mencari sesuatu di sebuah tempat sampah. Sekali lagi, semangatnya membara, senyumnya menandakan dia menikmati semuanya. Ku terus berjalan sambil sesekali menoleh ke arahnya. Dari jauh kulihat dia telah selesai dengan pekerjaannya. Dia melangkah menjauhi tempat sampah, tentunya dengan karung penuh di punggungnya.
Sebuah pertanyaan besar tiba-tiba muncul di kepalaku. Pertanyaan yang juga sangat berkaitan dengan diriku. Pertanyaan yang selama ini mengganggu batinku. "Apakah dia melakukan pekerjaan itu setiap hari? Apakah dia tidak bosan dengan pekerjaan yang setiap hari dia lakukan?"
Usai kuliah aku kembali ke rumah dengan segudang pekerjaan yang telah menungguku. Kali ini beberapa barang yang bercampur dalam satu kardus sepertinya meminta untuk ditata. Aku tahu, kak Fakhrul, si pemilik toko, baru saja membeli barang yang memang sudah kosong dari kemarin. Semua barang mengajakku menatanya dengan rapi, sesuai tempat yang diinginkannya. Lagi-lagi aku bosan mengerjakan hal ini. Hal yang hampir setiap minggu kulakukan. Namun, sekali lagi aku harus menikmatinya, meski terpaksa.
Kejenuhan ku bertambah melihat tampang memuakkan Anita, anak tunggal kak Fakhrul. Gangguan terbesar dalam pekerjaan ku. Perusak dan penghilang konsentrasi ku. Meski masih duduk di bangku kelas 1 SD, keahliannya menjadi operator urat emosiku tak dapat kuragukan lagi. Cerewet dan banyak bicara. Tingkah konyol dan menjengkelkannya hampir setiap hari menjadi hiburanku. Sikap pembangkangnya menjadi santapan membosankan setiap hari. Sifat cengeng dan manja yang terlalu berlebihan, menjadi guru berharga dalam melatih kesabaranku. Setiap hari aku harus menahan emosi melihat tingkahnya yang menjengkelkan dan memuakkan, yang kadang memperparah sakit kepalaku. Setiap hari aku harus memasang muka dua di hadapan kak Fakhrul ketika bersamanya. Setiap hariナ.Akh! Aku lelah menjelaskan semuanya! Namun, aku tahu satu hal. Sifat cerewet dan banyak bicaranya adalah satu-satunya cara yang dapat dia lakukan untuk memaksaku berbicara banyak dengannya. Mungkin karena dia merasa kurang diperhatikan. Atau mungkin karena aku terlalu pendiam dan tertutup.
Usai menata barang, kubersihkan beberapa etalase yang berdebu. Kurapikan catatan keuangan toko yang terlalu berantakan. Kukumpulkan beberapa nota pembelian barang yang berserakan akibat ulah Anita. Dan kulakukan semua pekerjaan yang lagi-lagi hampir setiap hari aku lakukan.
Jenuh, seperti sebuah judul lagu, adalah kata yang paling pantas untuk menggambarkan perasaanku. Namun, jika mengingat pendidikanku, kuliah dan cita-citaku, seakan kata tersebut haram untuk aku ucapkan. Sebuah kata yang bisa menggagalkan semua angan dan impianku. Haruskah aku mencontoh seorang pemulung kecil yang selalu bersikap sabar meski keadaannya sangat sulit seperti itu? Atau aku hanya perlu tersenyum meski menderita luka batin yang sangat perih?
***
Jumat sore, tak seperti biasa, usai kuliah aku pergi ke sebuah tempat yang tepat untuk menyepi. Sejenak aku mau sendiri. Mencoba mencari jawaban dari semua pertanyaan hidupku. Mencoba menemukan apa arti hidup yang telah kujalani.
Aku menyepi di tengah-tengah keramaian. Aku sendiri di tengah berpuluh-puluh orang yang ada disini. Namun, keputusanku tepat. Suasana ramai ini seakan hilang oleh hembusan angin yang dengan lembut membasuh wajahku. Aku duduk sendiri di tepi danau, sambil memandang ke arah air yang sangat tenang. Kuperhatikan seorang pemancing jauh di sampingku. Dengan sabar dia menunggu ikan yang menyambar umpan miliknya. Dengan teliti, dia mengawasi tiga alat pancingnya yang dia pasang hampir berjauhan. Sesekali dia memeriksa setiap mata kail miliknya, hanya untuk memastikan umpannya tidak hilang sia-sia. Jika bergerak, dengan tenang dia mengangkat alat pancingnya. Sangat tenang.
Lagi, sebuah pertanyaan besar tiba-tiba memeras otakku, untuk segera mencari jawabannya. Kini aku merasakan memori otakku tak dapat lagi menampung setiap pertanyaan yang ada. Tapi aku tetap mencoba mencari jawabannya. Sebuah jawaban dari semua pertanyaan yang menyiksa batinku. Dengan perlahan, kupejamkan mataku. Kurasakan setiap bulir angin yang menyapa lembut kulitku. Perlahan suara-suara keramaian yang tadinya sedikit mengganggu telingaku mulai menjauh. Semakin lama semakin jauh. Sampai akhirnya hilang. Hening.
***
Aku terbangun dari mimpiku. Kucoba menggerakkan badanku, tapi tak bisa. Seperti ada sebuah beban besar yang menahan semua persendianku. Tepat di sampingku, samar-samar kulihat seorang wanita yang wajahnya mirip dengan ibuku. Dan ternyata memang ibuku. Di sampingnya ada ayah dan dua saudaraku, kak Fian dan adikku Abdi. Kulihat ke atas, hanya ada langit-langit berwarna putih. Sebuah selang infus melekat di tangan kananku. Kulihat ibu menyapaku, bahkan semua menyapaku. Namun aku tak dapat mendengar satu katapun yang diucapkan oleh mereka. Dapat kulihat dari mulut mereka, yang memanggil namaku. Pandanganku kabur. Dan semakin kabur. Dalam sekejap ruangan ini pun berubah gelap dan senyap.
Aku coba menenangkan diriku. Kucoba mencari jawaban dari semua hal yang telah menimpaku. Namun tak ada jawaban. Perlahan pandanganku mulai jelas. Orang-orang disekitarku terlihat panik, ibu, ayah, kakak, dan adikku. Bahkan dokter dan perawat juga terlihat sangat panik. Kulihat ibuku menangis dihadapanku. Aku dipeluknya. Ingin kuhentikan tangis ibu, tapi aku tak bisa. Aku sungguh tak mau ibu menangis. Tapi aku juga tak mampu berbuat apa-apa. Kulihat semakin banyak saja orang yang datang menghampiriku. Kak Fakhrul dan Anita, juga ada teman-temanku, Ziyah, Udin, Rudi, Faiz dan Ardin. Aku tak tahu apa yang terjadi. Aku bingung.
Kali ini kucoba tersenyum. Seperti apa yang dilakukan Bagong dalam menjalani pekerjaannya. Tak ada hasil. Semua tetap terlihat sedih. Ibu, saudara dan temanku tak kuasa menahan air matanya. Apa yang terjadi? Kucoba tenang sebagaimana pemancing di danau itu tenang mengerjakan tugasnya. Kutarik nafas sedalam-dalamnya. Mencoba tenang menghadapi sebuah masalah yang sebenarnya aku tak tahu penyebabnya. Kali ini aku benar-benar tenang. Namun tak berhasil. Ruangan inipun tenang menyambut tumpahan tangis semua keluarga dan rekanku. Aku benar-benar tak mengerti. Kucoba menyapa semuanya. Dengan tenang dan senyum manisku. Tak berhasil. Kucoba lebih serius. Lebih cerewet. Lebih banyak bicara, sebagaimana yang dilakukan Anita ketika mencoba manarik perhatianku. Tapi tak ada yang menghiraukanku. Tak ada yang memperhatikanku.
Aku diam sejenak. Berjuta pertanyaan memenuhi otakku. Tapi tak satu pun jawaban yang menyelesaikannya. Aku yakin sebuah jawaban cukup untuk menjawab semua pertanyaan yang ada. Apa yang terjadi? Mengapa? Dan bagaimana? Lambat laun akhirnya kutemukan jawabannya. Riwayat penyakitku adalah sebuah jawaban yang aku cari. Penyakit syarafku memutus urat nadiku. Ajal telah menjemputku.
*** SELESAI ***

_KarungBeras_

0 comment:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...